Jam di warnet yang saya kunjungi kemarin terpajang lumayan jauh dari kedua kornea mata, meski demikian saya masih dapat melihat kombinasi
letak jarum panjang dan pendek nya sudah menunjukkan pukul 16.50 an.
“ketemuan nya jam setengah 5 ya” begitu text SMS yang tertulis di inbox saya kemarin siang.
Sudah hampir setengah jam saya menunggu seorang teman.
Surabaya berlinang hujan. Tapi janji adalah janji, bertemu dengan teman
seperti diri nya tidak menyurutkan niat saya untuk berpayah-payah mengenakan jas hujan dan memacu sepeda motor yang sudah hilang STNK nya. Di warnet tulisan-tulisan Paman Tyo terpampang di layar komputer yang saya sewa, beberapa jendela lain nya terisi oleh inbox email saya, om google, dan guneman dari blogger solo yang baru saya kenal di media ini.
Sebenarnya saya bisa menikmati tulisan-tulisan Paman Tyo dan guneman wong solo iku di rumah sambil menikmati kopi dan menghisap rokok kegemaran saya, tentu nya lebih asyik, tapi kemarin saya terharuskan mengisi kekosongan waktu.
Kembali saya melihat jam di dinding, sudah setengah enam lewat, dering handphone saya menghentikan ketertarikan saya pada kalimat-kalimat Paman Tyo.
“di mana ?” .
“lantai dua” jawab saya ketus.
“kalo gitu aku naik ya..”, balas diri nya.
tak lama dia berdiri di depan saya.
“sorry, ngantri nya lama..yang potong rambut banyak”
“ya namanya juga salon” jawab saya berusaha pura-pura kecewa untuk menutupi lega nya hati.
“maaf deh..”
“nggak liat , ujan diluar…?!” , tanya saya, menyempurnakan kepura-puraan.
“tapi kan seneng?” , dia tersenyum.
“tapi kan nunggu!” .”satu jam!”, balas saya sambil menunjuk jam dinding yang tak bersalah.
Secuil cerita dari waktu yang terpakai untuk menunggu.
Hampir pasti anda pernah berada dalam situasi sejenis, entah itu menunggu kedatangan seorang teman atau rekan kerja, mungkin juga anda pernah menunggu hidangan tersaji di meja setelah menulis menu yang anda ingin nikmati. Seringkali pula kita temui karyawan kantoran berdiri di bawah atap halte menunggu bus favorit nya menghampiri. Atau juga sering anda mendengar “nomor yang anda hubungi sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi..” , itu pun hampir sama artinya dengan “anda harus menunggu”.
Biasanya setelah menit-menit berlalu menunggu (apapun itu) mulailah rasa bosan bertamu. Andapun mulai merogoh kantong untuk mengambil handphone, membuka-buka inbox dan membaca nya, sudah anda baca sebetulnya, tapi anda baca sekali lagi, dari pesan pertama sampai pesan terakhir. Menelusuri menu nya kembali dan mengganti theme nya, mencoba melihat hasil nya dan mengganti nya kembali ke theme semula,
demikian seterusnya sampai semua theme di handset anda mengalami nasib yang sama. Di menit-menit berikutnya andapun melongok kiri dan kanan
berharap ada seseorang yang anda kenali lalu bisa anda ajak bicara, tapi sayangnya hanya ada pak polisi disana. Kembali jari dan mata anda tertuju ke handhone, andapun menulis “sudah sarapan belum?” dan mengirim nya kepada istri / kekasih tercinta meskipun anda tahu betul ia tidak biasa makan pagi.
Banyak hal memang yang bisa dilakukan seseorang untuk melewati masa-masa “penungguan”. Terkadeng aneh , kadang menggelikan.
Sepulang dari warnet saya berandai-andai, bila segenap “masa tunggu” dalam hidup direntang dalam seutas tali waktu, bisa jadi kita akan mendapatkan separuh umur kita disana. Dan bila kita rentang utas nya ke masa yang akan datang, akan bertambah panjanglah tali nya.
Kalau dipikir-pikir lagi pada akhirnya,
kita semua sebenarnya sedang menunggu.
Filed under: Tarian Jemari , handphone, SMS, STNK, warnet
Hmm, lihat kata ‘rujak cingur’, aku jadi semakin pingin mencicipi makanan itu, seumur hidup belom pernah mencicipinya
waduh! Koq bicara itu sih.., sory..
Ya, menunggu bagiku kadang menjengkelkan, ada rasa bosan yang membuat kita jadi semakin gundah, tapi kadang ada kejadian tak terduga saat kita menunggu yg bisa jadi selingan kebosanan
menunggu itu…. membosankan (klise)
tapi kadang… menyenangkan (mulai aneh)
salam kenal, makasih dah sudi mampir ke blogku
We e e e..sempet kaget juga liat link saya ikut disebut disini, hehehe…
Ngomong2 soal menunggu, saya sekarang juga lagi menunggu. Banyak yang saya tunggu. Saya nunggu lulus, saya nunggu mapan, trus finalnya saya nunggu waktu yang tepat buat menempuh hidup baru…hehehe, mohon doanya aja…
hehehhee…. iya jg ya, kenapa klo udah ketemu dgn yg namanya situasi menunggu, mulai deh hp jd sasaran. emg begitulah gunanya hp, sbg temen menunggu.
lebih enak ditunggu daripada menunggu kali ya? salam kenal
kayaknya menunggu janda seseorang lbh asek
Menunggu itu melatih kesabaran